Salah satu yang membuat miris di balik gemerlap lokalisasi Dolly Surabaya, ada PSK berusia 60 tahun dan pelanggannya adalahi siswa sekolah dasar (SD) dan siswa SMP dengan tarif Rp 1000 – 2000!
Secara blak-blakan di Mata Najwa Metro TV, Risma membeberkan alasannya mengubah pendirian dengan menutup lokalisasi di Kota Surabaya. Saat kali pertama menjabat sebagai Wali Kota, Risma mengaku menolak menurup lokalisasi di kota itu.
Saya masih menyimpan kliping beritanya, waktu itu ada berita di koran Gubernur minta lokalisasi, walikota menolak. Saat itu, ada beberapa kiai menemui saya meminta saya menutup lokalisasi, waktu itu saya menjawab, saya belum bisa memberi pekerjaan dan makan mereka, ujar Risma mengisahkan keputusannya saat itu.
Namun, pendiriannya itu berubah ketika dia menemui beberapa momen-momen khusus. Ada beberapa peristiwa yang akhirnya mengubah pendirian saya dari semula menolak menjadi menutup lokalisasi, katanya.
Momen pertama saat dia mengunjungi beberapa sekolah yang berlokasi tak jauh dari kawasan lokalisasi.
Saya telusuri benar sekolahnya, keluarganya, lingkungannya dan sekolahnya. Saya bertemu dengan orang tuanya, dan saya juga mendatangi anak-anak ini di sekolahnya. Saya menghadirkan lima psikolog yang khusus mendengarkan keluh kesah mereka. Mereka bahkan mengantre untuk bisa curhat dengan saya.
PSK Belia dan Tua
Dari kisah yang disampaikan anak-anak tersebut, Risma terkejut mendengarnya. Saya tidak tega untuk menceritakan kisah-kisah mereka. Sungguh tidak tega! katanya terisak.
Najwa Shihab sang presenter meminta Risma mengisahkan apa yang terjadi dengan anak-anak tersebut. Apa mereka diminta menjadi PSK? tanya Najwa.
Risma hanya menganggukkan kepala sambil terisak. Anak-anak yang sebagian besar di bawah umur, usia SMA dan SMP itu telah dipaksa orang tuanya bekerja menjadi PSK.
Ia merasa tak tega dengan nasib anak-anak usia seloalah SMP dan SMA yang mencari nafkah dengan menjual diri mereka justru berasal dari dorongan keluarga dan lingkungan yang mereka tempati.
Jadi itu alasan ibu menutup lokalisasi? tanya Najwa.
Tidak hanya itu, masih ada lagi yang membuat keinginan saya semakin kuat, katanya.
Tak berapa lama setelah peristiwa itu, Risma mengumpulkan mucikari di Kota Surabaya. Waktu bulan Ramadan, dia mengadakan acara buka bersama. Di situlah dia bertemu dengan salah satu PSK yang berusia 60 tahun. Dia masih bekerja sebagai PSK.
Risma pun mendatangi rumah PSK 60 tahun tersebut. Rumahnya sempit hanya terdapat dua ruang yang dibatasi tirai. Ruang pertama tak lebih berukuran 2×2 meter merupakan warung kelontong, sementara ruang lain untuk tidur yang luasnya tak jauh beda.
Saya berbicara dengan dia di kamarnya itu. Saya bilang, maaf bu maaf saya menanyakan ini. Saya bertanya ibu sejak usia berapa menjadi PSK. Dia menjawab sejak usia 19 tahun. Sekali lagi maaf ibu saya menanyakan ini lalu apa itu tidak menabung kenapa ibu di usia segini masih tetap bekerja. Dia menjawab uangnya habis untuk membeli baju dan lainnya, katanya.
Risma melanjutkan kisahnya, PSK 60 tahun itu sebenarnya ingin berubah, tetapi pemerintah yang pernah menjanjikan pekerjaan dan uang itu tak menepati janji.
Yang lebih membuat Risma terkejut dan miris yakni pengakuan PSK tersebut mengenai pelanggannya. Saya menanyakan itu siapa pelanggannya? Dan jawabannya sangat mengejutkan, ucap lirih Risma sambil menahan isak dan geleng-geleng kepala.
Najwa pun menanyakan, Siapa ibu, pelanggan PSK 60 tahun? tanya Najwa lirih membujuk Risma untuk menyebutkan.
Anak-anak siswa SD dan SMP, kata Risma lirih.
Najwa kembali menegaskan jawaban Risma. Siswa SD dan SMP jadi pelanggan PSK berusia 60 tahun.
Iya karena [siswa SD dan SMP] kuatnya uang Rp1.000 dan uang Rp2.000. Dan uang segitu pun diterimanya karena dia butuh.
Risma mengaku telah memberikan apapun yang dibutuhkan oleh PSK tersebut. Ia juga mengaku sudah membayarkan utang mereka. Sebagai bukti bahwa dirinya tak akan melanggar janji yang telah ia katakan sekaligus sebagai keinginanya untuk memberantas praktek prostitusi.
Risma, adalah sosok walikota yang tiap jam 5.30 pagi keluar rumah keliling blusukan surabaya tanpa woro-woro ke awak media dan minta diliput- banyak menemukan rakyatnya yang nestapa dan langsung tanpa pamrih turun tangan membantunya.
Pernah Risma menemukan sebuah keluarga, di mana laki-laki tua yang sakit dan sudah lumpuh, tinggal bersama dengan dua orang anaknya, anaknya yang pertama gila, dan yang keduanya penganggur. Risma menyelamatkan keluarga itu. Sungguh sangat luar biasa. Anak-anak gelandangan yang tidak memiliki keluarga diambil oleh Risma, dan dimasukkan ke dalam panti,dan menyelamatkan masa depan mereka.
Mengapa Risma Menangis?
Saya menangis bukan karena takut kehilangan jabatan. Saya menangis karena membayangkan anak-anak saya di Surabaya. Mereka yang terpinggirkan dan tersisih. Baik di Dolly maupun beberapa tempat lainnya, terang Risma.
Di beberapa kesempatan wawancara, Risma memang menangis. Bahkan, dalam beberapa momen, untuk beberapa saat pemimpin yang baru saja meraih penghargaan wali kota terbaik dunia ini, seolah kehilangan kata-kata. Hanya terlihat genangan air mata di pelupuk mata. Sedikitpun saya tak takut kehilangan jabatan ini. Di pikiran saya hanya terbayang bagaimana nasib anak-anak itu, tambahnya.
Jamak mengetahui, Risma dulu sempat ingin mundur dipicu oleh pelantikan Wakil Walikota Surabaya. Ketua PDI Perjuangan Wishnu Sakti Buana yang sebelumnya menjadi Wakil Ketua DPRD Surabaya dilantik. Pelantikan ini oleh Panitia Pemilihan dianggap cacat dan tak prosedural. Risma sendiri berulangkali mengatakan secara pribadi tak ada masalah dengan Wishnu.
Risma, yang awalnya diusung oleh PDIP dan ironisnya justru sempat ditekan luar biasa oleh partai pengusungnya itu bahkan akan dilengserkan, tak gentar. Meski demikian, ketika Najwa berulangkali menanyakan kepada Risma, bagaimana kalau dia dicalonkan menjadi calon presiden Indonesia? Risma menjawab, menolak, mengatakan sangat berat pertanggungjawabannya di akhirat.
Mengurus Surabaya saja sudah berat, tuturnya. Apalagi, mengurus Indonesia, negara besar, penduduknya lebih dari 200 juta. Bagaimana nanti saya di akhirat. Saya takut, tambahnya. Sungguh tauladan yang luar biasa. [bbi/age]








