Karena gardu induk tak memadai, sejumlah wilayah di Jawa Timur terancam padam bergilir. Sedikitnya, 9 kabupaten akan mengalami pemadaman bergilir pada dua tahun mendatang. Wilayah tersebut adalah Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Blitar, Tulungagung, dan Jombang.
“Rencananya kami akan membangun gardu induk di sejumlah titik, namun masih ditolak masyarakat,” kata Manager Area Pengaturan Beban Jawa Timur, Bambang Warsono, Minggu (9/11).
Di Surabaya Selatan misalnya, Gardu Induk Waru, Rungkut, Sukolilo, Ngagel, dan Gardu Induk Sampang bebannya sudah mencapai 70 persen. Untuk dua tahun ke depan, jika pembangunan Gardu Induk Juanda masih belum bisa terealisasi, daerah tersebut akan padam. Begitu juga dengan seluruh wilayah Madura, seluruhnya akan mengalami hal serupa.
“Karena Gardu Induk Tandes, Gardu Induk Perak, Gardu Induk Ujung, dan Gardu Induk Kenjeran bebannya sudah mencapai 67 persen,” katanya.
Wilayah terparah daerah di Kabupaten Jombang. Diperkirakan satu tahun ke depan akan terjadi pemadaman bergilir, jika pembangunan Gardu Induk dan SUTT 150 KV di Jombang tidak bisa terealisasi.
Dia menjelaskan, beban gardu induk di Kertosono ke Gardu Induk Ploso sudah mencapai 80 persen.
Dan, banyaknya gardu induk dan travo yang sudah kelebihan beban, karena kenaikan konsumsi listrik di Jatim. Sementara itu, cadangan kapasitas menipis dan butuh tambahan jaringan instalasi baru. Jika beban berat itu dipaksakan, jaringan kabel gardu induk akan putus dan travo juga akan meledak.
Saat ini, gardu induk yang bebannya sudah mendekati maksimal mencapai 20 persen dari 140 gardu. Dan, jumlah travo yang bebannya sudah di atas 60 persen mencapai 50 persen dari total jumlah travo di seluruh Jatim yang mencapai lebih dari 300 travo.
“Jika pembangunan tidak bisa dilakukan, maka satu-satunya solusi yang bisa dilaksanakan adalah pengurangan beban. Terpaksa PLN akan melakukan pemadaman bergilir di wilayah-wilayah itu,” katanya.
Selain berakibat pemadaman bergilir, kondisi ini juga menyebabkan penyambungan baru khususnya untuk industri bisa terkendala. Pengembangan kawasan industri di wilayah Jombang dan lainnya yang direncanakan juga terancam mandek.
Deputi Manajer Perencanaan dan Lingkungan Hidup Unit Induk Pembangunan (UIP) VII, Achmad Ismail menuturkan, sedikitnya ada dua industri besar yang sudah mengajukan penambahan daya, namun hingga kini belum bisa direalisasikan. Kedua industri tersebut adalah Chiljedang dengan daya 40 MW di Ploso Jombang dan PT Indofood sebesar 30 MW di Perak Surabaya.
“Kalau untuk wilayah Pantura, seperti Gresik, Lamongan, dan Tuban masih aman. Industri akan bisa masuk dan langsung mendapatkan pasokan karena infrastruktur di sana memadai,” katanya. (bbi/age)








