Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (23/12) ditutup menguat 20 poin (0,16%) ke posisi Rp 12.180-12.205 dari posisi akhir pekan lalu Rp 12.200-12.220. Kurs rupiah memang menguat tapi tidak tampak aksi pembelian. Karena itu, penguatan rupiah hari ini akibat aksi profit taking terhadap dolar AS.
Sebab, pelemahan dolar AS juga terjadi di NDF akibat aksi realisasi untung jelang libur Natal dan tahun baru. Karena itu, rupiah ditutup di level terkuatnya Rp 12.180 setelah mencapai level terlemahnya Rp 12.250 dari posisi pembukaan Rp 12.220 per dolar AS. Setelah adanya respons dari tapering Fed yang lebih senyap dibandingkan estimasi memicu profit taking. Mereka kemungkinan beralih ke pasar aset berisiko.
Pengumuman tapering Fed senilai USD 10 miliar di luar ekspektasi pasar. Sebelumnya, pasar berekspektasi tapering baru terjadi pada Januari atau Maret 2014. Di sisi lain, reaksi pasar tidak terlalu negatif. Sebab, The Fed menyisipkan sinyal panduan moneter yang berhasil mengembalikan keyakinan para investor. The Fed sendiri menyatakan bahwa tingkat suku bunga rendah, 0-0,25% akan tetap dipertahankan meski tingkat pengangguran AS membaik ke bawah 6,5%.
Pernyataan tersebut menimbulkan persepsi di pasar bahwa tapering bukanlah pengetatan moneter. Karena itu, reaksi di pasar obligasi pun cukup senyap seiring panduan moneter The Fed yang diperkuat dengan proyeksi suku bunga AS yang cenderung lebih dovish (pro-moneter longgar). Semua itu, memicu pergerakan pada indeks saham yang mencerminkan investor lebih nyaman, bahwa tapering bukan pengetatan moneter dan pertumbuhan ekonomi AS menjadi penggerak utama di balik pergerakan yield obligasi AS.
Selain itu, tapering senilai USD 10 miliar dinilai pasar cukup rendah. Ini menunjukkan bahwa proses tapering Fed akan berjalan secara gradual. Yang lebih penting bagi para pelaku pasar adalah proyeksi, arah suku bunga berikutnya. Pernyataan Gubernur The Fed Ben Bernanke menunjukkan bahwa tapering USD 10 miliar lebih moderat. Ini lebih meyakinkan bagi para pelaku pasar yang pada awalnya takut tapering yang lebih agresif.
Belum lagi, rapat FOMC menyebutkan bahwa program tapering The Fed itu tetap tergantung pada data ekonomi AS yang dirilis. Jika data ekonomi AS membaik, tapering tersebut baru dilanjutkan. Tapi, bisa saja ditunda dulu tapering-nya dan terutama kenaikan suku bunga AS kemungkinan baru akan terjadi di akhir 2015.
Akhirnya, dolar AS melemah terbatas terhadap mayoritas mata uang utama tapi menguat tipis terhadap euro. Indeks dolar AS melemah tipis ke 80,50 dari sebelumnya 80,55. Tapi, di sisi lain, terhada euro, dolar AS ditransaksikan menguat tipis ke USD 1,3673 dari sebelumnya USD 1,3675 per euro. [bbi/age sumber dari Financeroll]








