Terparah Sejak 2009, Minyak AS Nyemplung di Bawah US$60/Barel

koki duit

Untuk pertama kalinya sepanjang lima tahun terakhir, minyak mentah Amerika Serikat turun di bawah US$60 per barel pada Jumat 12 Desember 2014 waktu Indonesia barat.

Harga tersebut, seperti dikutip dari laman CNBC, telah melewati level batas bawah (support) psikologis terpenting, dan memperpanjang daftar kerugian sepanjang pekan ini, di tengah kekhawatiran atas kelebihan pasokan.

Bacaan Lainnya

Kontrak minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange dipatok US$59,95 per barel, atau turun 1,6 persen. Ini merupakan penutupan terendah sejak 14 Juli 2009.

Sedangkan kontrak Januari, minyak mentah jenis Brent, justru naik 20 sen, atau 0,3 persen menjadi US$64,44 per barel. Sebelumnya, Brent sempat jatuh ke level US$63,70.

Sepanjang minggu ini, kontrak minyak kehilangan hampir 9 persen. Bila dirunut dari harga tertingginya pada Juni, sebesar US$107 per barel, harga minyak mentah AS turun sekitar 45 persen.

Para pedagang memperingatkan bahwa rendahnya harga minyak mentah tetap sulit dipahami, setelah aksi jual pada enam bulan ini.

Sementara itu, rendahnya harga minyak, justru mendorong kenaikan belanja konsumen AS pada bulan November. Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan, murahnya harga bensin berhasil memberikan dorongan untuk belanja liburan.

 Minyak Mentah

Pangkas produksi

Pada Rabu atau Kamis WIB, harga minyak runtuh, setelah persediaan minyak mentah AS naik secara tak terduga. Ditambah, suara paling berpengaruh di OPEC (Organization Petroleum Exporting Countries), Menteri Perminyakan Arab Saudi, sekali lagi mengabaikan gagasan pemotongan produksi.

Beberapa pedagang mengatakan, harga bisa bergejolak, karena pelaku pasar berspekulasi kalau negara eksportir minyak OPEC bakal menurunkan produksi.

Aljazair dan Venezuela diharapkan bisa meyakinkan anggota OPEC untuk mengadakan pertemuan darurat pada awal tahun depan. Tetapi, beberapa kalangan meragukan Arab Saudi bakal setuju untuk memangkas produksi.

“Tidak ada kekuatan yang tersisa dari OPEC atau pun dunia, yang bisa menekan Saudi,” kata Tariq Zahir, analis di Tyche Capital Advisors, New York, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Beberapa produsen minyak, kata dia, bakal menghentikan eksplorasi akibat turunnya harga minyak. Namun, produsen lain yang masih bisa profit pada harga yang lebih rendah, justru dapat mendorong produksinya untuk meningkatkan pendapatan dengan menaikkan volume produksi.

“Jika harga minyak di bawah level US$50-an per barel, produsen minyak non-OPEC kemungkinan akan meningkatkan produksi. Karena, itu satu-satunya cara mereka untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan dengan menjual di harga tersebut,” ujarnya. (bbi/age)

banner 300x250

Pos terkait

banner 728x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *