Siapa Sebenarnya Pengendali Harga Minyak?

koki duit

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) selama ini distigmakan sebagai suatu kartel yang berpengaruh untuk menstabilkan harga minyak dengan mengendalikan produksinya.

Anggapan itu kini nampaknya tidak berlaku lagi.

Bacaan Lainnya

Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali Al-Naimi membuat pernyataan mengejutkan pada forum PBB di Lima, Peru.

“Mengapa saya harus pangkas poduksi? Kalian tahu, apa fungsi pasar untuk komoditas apa pun. Itu untuk naik turun dan naik turun,” ujar Al-Naimi seperti dilansir Business Insider, Kamis 11 Desember 2014.

Hal ini menarik, karena Al-Naimi merupakan orang yang dianggap paling berkuasa di OPEC, yang notabene dianggap sebagai kartel yang telah memanipulasi pasar minyak dunia sejak tahun 1960.

Kekuatan utama OPEC adalah pada tindakan kolektif, melalui pengontrolan secara ketat pasokan minyak dunia, untuk melawan kekuatan pasar yang menginginkan harga bergerak bebas.

Pernyataan Al-Naimi mengindikasikan, ia mendukung pergerakan harga minyak sebaiknya diserahkan kepada mekanisme pasar. Komentar Al-Naimi ini muncul berbarengan pada hari yang sama dengan OPEC menurunkan ekspektasinya untuk permintaan tahun depan menjadi 28,9 juta barel perhari, atau berkurang sekitar 300 ribu barel. Ini merupakan perkiraan terendah untuk kurun sejak 2002.

MInyak Dunia

OPEC beralasan penurunan permintaan ini dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, peningkatan produksi di seluruh dunia. Sebagian besar, berasal dari produksi kilang di Amerika Utara.

Kedua, permintaan kian melemah. Teknologi ekstraksi minyak terus berkembang dan kian membaik, efisiensi energi pun menjadi tak terhindari.

Pada November lalu, OPEC memutuskan untuk tidak memangkas produksi minyak meskipun harga terus tertekan di pasar. Langkah ini merugikan perekonomian banyak negara anggota yang tidak kaya seperti Venezuela, Ekuador, dan Nigeria.

Harga minyak anjlok sejak Juni. Dari posisi sekitar US$105 per barel kala itu, menjadi terpuruk sangat dalam, terutama pada Oktober dan November. Kini, harga minyak mentah sekitar US$60 per barel dan belum menunjukkan tanda-tanda bakal pulih.

Ditengarai langkah baru Al-Naimi ini merupakan taktik politik. Arab Saudi ingin harga minyak bergerak cukup rendah, sehingga produsen Amerika yang memiliki kilang baru tidak dapat menciptakan uang atau merugi. Dengan begitu, mereka mungkin bakal berhenti membanjiri pasokan minyak di pasar, dan Arab Saudi akan kembali meraih posisinya sebagai pemimpin minyak di dunia.

Taktik Arab Saudi ini tampaknya berjalan efektif. Baru-baru ini badan Administrasi Informasi Energi di AS (EIA) melaporkan proyeksi pertumbuhan produksi pada tahun 2015 berkurang 100 ribu barel per hari. (bbi/age)

banner 300x250

Pos terkait

banner 728x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *