Perhelatan musik jazz tertinggi di dunia digelar di Indonesia, tepatnya di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jazz Gunung 2014 keenam kembali hadir di salah satu titik matahari terbit di dunia, Gunung Bromo pada tanggal 20-21 Juni 2014 lalu.
Tak hanya digelar di atas ketinggian yang sangat ekstrem, penonton pun diajak menikmati jazz dengan suhu di bawah 10 derajat celcius di alam terbuka. Sehingga latar panggung pertunjukan pun adalah langit, bintang dan alam Gunung Bromo.
“Boleh saja Java Jazz mengklaim event paling besar di Indonesia. Tapi kita yang tertinggi, karena digelar di atas 2.000 mdpl, mungkin di dunia juga,” ujar penggagas Jazz Gunung Sigit Pramono di Menara BCA, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.
Sigit mengatakan, sensasi Jazz Gunung akan lebih berkesan dibandingkan event serupa lainnya. Selain faktor alam, acara tersebut memadukan musik jazz dengan unsur etnik dari kekayaaan musik lokal sekitar Gunung Bromo.
Jazz Gunung pertama kali digelar pada tahun 2009 oleh Sigit dan dua seniman kakak adik, Butet Kertaradjasa dan Djaduk Ferianto. Tahun 2014 ini mengambil tema Sedekah Bumi Lewat Bebunyian.
“Kelestarian alam sangat tergantung bagaimana manusia menjaga harmoni dengan alam. Jazz Gunung mengingatkan kembali mengenai keharmonisan yang manusia miliki dengan alam,” ujar Djaduk Ferianto.
Jazz Gunung 2014 akan bertaburan bintang seperti Syahrani & Queenfireworks, Monita Tahalea, Ligro Trio, The Overtunes dan Bintang Indrianto Trio. Selain itu, Djaduk bersama Ring of Fire Project akan berkolaborasi dengan Nicole Johaenntgen, saksofon dari Jerman.
“Jazz Gunung juga akan menampilkan Jazz Ngisoringin. Serta untuk tahun ini akan menggundang Sanggar Genjah Arum yang akan menampilkan musik dan tarian khas Banyuwangi yang akan membuka pertunjukan di hari pertama dan kedua,” tukas Djaduk. [bbi/jea]








