Negara mana yang paling baik untuk investasi bisnis? Berdasarkan laporan Doing Business 2015 yang dirilis oleh World Bank, peringkat pertama dipegang oleh Negeri Kepala Singa Singapura. Ini adalah kali kesembilan Negeri Singa itu nangkring di posisi teratas. Urutan kedua diduduki Selandia Baru. Disusul Hongkong di posisi ketiga. Berikutnya, di daftar 10 besar, berturut-turut adalah Denmark di posisi ke-4, lalu Korea Selatan, Norwegia, Amerika Serikat (AS), Inggris, Finlandia, dan Australia.
Lalu peringkat berapa Negeri Rayuan Pulau Kelapa Indonesia? Peringkat berinvestasi di Indonesia mengalami perbaikan. Indonesia menduduki peringkat 114 dari 189 negara. Sebelumnya peringkat doing business Indonesia berada pada peringkat 120.
Meski mencatat kenaikan peringkat, Indonesia tidak boleh lantas berpuas diri. Sebab, negara-negara ASEAN yang pada akhir 2015 berkompetisi dalam skema Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah mencapai level jauh di atas Indonesia.
Selain Singapura yang sudah langganan di posisi pertama, Negeri Jiran Malaysia telah nangkring di peringkat ke-18. Lalu, Thailand (ke-26), Vietnam (ke-78), Filipina (ke-95), dan Brunei Darussalam (ke-101). Indonesia di peringkat ke-114 hanya unggul atas Kamboja di posisi ke-135 dan Timor Leste yang tercecer di posisi ke-172.
Setidaknya ada empat hal yang dinilai oleh World Bank.
Pertama, memulai bisnis. Dari kategori ini, Indonesia menduduki peringkat 155. Menurut World Bank, Indonesia membuat perizinan bisnis yang lebih mudah dengan sistem online.
Dengan sistem online memungkinkan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk mengeluarkan surat pertujuan akta pendirian melalui elektronik. Reformasi sistem ini berlaku untuk Jakarta dan Surabaya.
Kedua, dari sisi kelistrikan. World Bank menilai di Indonesia perusahaan listrik bisa mendapatkan listrik dengan lebih mudah. Hal ini sebagai akibat dihapuskannya kebutuhan kontraktor listrik untuk mendapatkan beberapa sertifikat keamanan instalasi internasional.
Ketiga, dari sisi pembayaran pajak. Pembayaran pajak di Indonesia lebih efisien untuk perusahaan dengan mengurangi tingkat kontribusi asuransi kesehatan si pemilik perusahaan.
Keempat, dari sisi perdagangan lintas batas. World Bank menilai perdagangan lintas batas di Indonesia menjadi lebih sulit. (bbi/age)








