“Andai tak ada takbir, saya tidak tau dengan cara apa membakar semangat para pemuda untuk melawan penjajah!” (Bung Tomo)
Itulah Bung Tomo. Seorang pejuang yang pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap.
Dialah Bung Tomo yang juga tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia. Mungkin banyak dari kita yang tak pernah sadar bahwa ternyata Bung Tomo pernah juga menjabat sebagai Menteri Sosial Ad Interim meskipun hanya satu tahun. Bukan begitu? Ya, kali ini kita akan bersama-sama menyimak lebih jauh tentang semangat membara seorang pemuda yang luar biasa dari tanah pejuang di ujung timur pulau Jawa.
Bung Tomo memiliki nama lengkap Sutomo, lahir pada 03 Oktober 1920 di Surabaya, Jawa Timur. Meskipun sebutan khas untuk pemuda di Jawa Timur adalah Cak, tapi entah mengapa, beliau lebih terkenal dengan sebutan Bung Tomo. Mungkin itulah gaya bahasa yang memang luas digunakan di seluruh Indonesia ketika pada masa itu.
Terlepas dari itu semua, kita semua tetap bersepakat bahwa memang Bung Tomo lah sosok yang dapat menginspirasi dan membakar semangat belasan ribu tentara untuk melawan pasukan NICA di Kota Surabaya.
Masih ingat kan dengan peristiwa bersejarah pada tanggal 10 November 1945 silam? Di sanalah terdapat Bung Tomo, Panglima yang baru berusia seperempat abad mengobarkan semangat menggelora rakyat Surabaya agar tak takut untuk menghadapi tentang sekutu NICA yang ingin menduduki tanah air Surabaya.
Dari sekian banyak tokoh nasional maupun tokoh dunia yang kita ketahui, tak terkecuali juga seorang Bung Tomo, ada satu kesamaan yang dapat kita tarik garis merahnya. Salah satunya adalah mengikuti atau aktif berorganisasi semenjak usia muda. Betul, di dalam kesatuan organisasi kita akan dilatih, dibina dan digembleng untuk menjadi seseorang yang dapat bekerja sama dalam tim, menghargai pendapat dan keputusan dari orang lain, serta semakin kritis dan peduli terhadap masalah dan fenomena yang terjadi di masyarakat.

Bung Tomo sendiri sudah mulai aktif berorganisasi setelah lulus dari pendidikan HBS-nya dengan bergabung ke dalam Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia saja.
Selain itu, Bung Tomo juga sangat sadar bahwa perjuangan tidak harus selalu dalam bentuk fisik, melainkan juga dengan jalan menyebarkan pemikiran kritis dan menggugah semangat juang dari rakyat Indonesia. Karenanya ia juga menjabat menjadi wartawan semasa mudanya, adapun beberapa pengalaman sebagai pencari dan pemuat berita antara lain:
- Wartawan freelance pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya 1937
- Wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres di Surabaya 1939
- Redaktur Mingguan Pembela Rakyat, di Surabaya 1938
- Pembantu koresponden untuk Surabaya, Majalah Poestaka Timoer Jogjakarta, sebelum perang di bawah asuhan almarhum Anjar Asmara
- Wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang Domei bagian Bahasa Indonesia, untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya 1942-1945. Dan memberitakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam tulisan bahasa Jawa, bersama wartawan senior Romo Bintarti (untuk menghindari sensor balatentara Jepang)
- Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya 1945
Sebagian besar masyarakat kita, terutama para pemudanya, mungkin telah mengenal sosok Bung Tomo dalam buku sejarah, di mana dengan kobaran semangat yang dilakukannya terlihat begitu menggelora hingga meresap ke dalam jantung hati para pejuang yang ketika itu bersamanya. Nasionalis, kita akan mengecap Bung Tomo dengan label demikian, namun pada kenyataannya sebenarnya hakikat nasionalisme yang dipegang teguh oleh Bung Tomo adalah Nasionalisme Agama, yakni semangat jihad yang menggebu karena fatwa jihad telah dikeluarkan oleh Ulama Besar NU ketika itu, KH. Hasyim Asyari. Di sini, poin yang patut kita catat adalah bahwa seorang Bung Tomo adalah sosok pemuda yang religius.
Sebelumnya, selain aktif dalam organisasi kepanduan atau KBI, ia juga bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan social. Mulailah sekitar tahun 1950-an Bung Tomo mulai aktif dalam kehidupan politik yang sesungguhnya. Pada masa pemerintahan orde Baru, Bung Tomo banyak mengkritik kebijakan Soeharto yang dianggapnya mulai melenceng. Akibatnya tanggal 11 April 1978 ia ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Soeharto. Padahal jasanya begitu besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Satu tahun setelah di tahan Bung Tomo kemudian di bebaskan dan tidak banyak aktif dalam kehidupan politik. Meski demikian, ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia tempo dulu.
Melihat dari perjalanan Bung Tomo di atas, ada empat hal yang patut menjadi catatan penting dan menjadi sebuah pengingat bagi kita, para pemuda generasi penerus bangsa di masa depan. Untuk menjadi orang besar, maka keempat hal tersebut haruslah mendapatkan perhatian yang serius dan bersungguh-sungguh. Adapun keempat hal tersebut adalah:
- Aktif bergabung di organisasi semenjak masa muda untuk membentuk karakter manusia yang berkualitas
- Gemar menulis dan peka terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat sehingga mampu menyuarakan kebenaran yang berdampak secara luas
- Menjadi sosok religius yang berpegang teguh pada ajaran agama karena setiap nafas perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa kehendak-Nya
- Mengambil peran dalam kancah perpolitikan untuk memberikan pengaruh yang signifikan dalam menyusun perubahan di masa depan
Demikian lah Bung Tomo, sosok sejarah yang dapat kita teladani perjuangannya. (bbi/age dari berbagai sumber)








