Monster Chef and The Shemale, itulah headline surat kabar The Courier Mail Australia 7 Oktober lalu. Surat kabar milik Rupert Murdoch’s NewsCorp. ini menyoroti peristiwa tragis pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan oleh seorang chef kapal pesiar, Marcus Volke (28 tahun) terhadap Mayang Prasetyo, seorang transgender kelahiran 13 Februari 1987 asal Indonesia yang tak lain adalah istri Marcus sendiri.
Dibunuh dan direbus, itulah kekejaman tragis yang dialami Mayang di Brisbane, Australia.
Mayang sendiri adalah seorang ‘wanita’ yang awalnya adalah seorang lelaki asal Indonesia bernama asli Febri Andriansyah. Lalu apa yang melatarbelakangi pembunuhan tragis ini?
Mayang semasa hidup dikenal sebagai sosok temperamental. Hal ini dituturkan ibunda Mayang, Nining Sukarni. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Courier-Mail, Nining menyatakan, Mayang seorang yang pencemburu dan temperamental. Bahkan, Nining pernah mewanti-wanti supaya Mayang tidak bertengkar.
Keterangan ibunda Mayang itu memiliki kemiripan dengan analisa psikolog Sani B. Hermawan seperti dikutip oleh metrotvnews.com (7/10/2014). Sani mengungkapkan, di antara banyaknya kasus pembunuhan pasangan sesama jenis, mereka rata-rata memiliki motif serupa, yakni karena terbakar rasa cemburu.
Selain itu, masalah keuangan atau harta juga kerap mendorong kaum LGBT gelap mata membunuh pasangan.
Ditinjau dari aspek psikologis, ada dua alasan mengapa pasangan LGBT memiliki rasa posesif tinggi dan mudah tersulut emosi.
1. Faktor lingkungan
Belum adanya dukungan dari lingkungan terhadap para LGBT, membuat mereka menjadi waspada dan sensitif secara emosional. “Mereka (kaum LGBT) adalah kaum minoritas. Di Indonesia terutama, hubungan sesama jenis dan fenomena transgender merupakan hal yang masih dianggap tabu. Itulah mengapa mereka menjadi sangat sensitif secara emosional,” ujar Sani.
2. Khawatir ditinggal pasangan
Jumlah LGBT tentu saja tak sebanyak manusia dengan orientasi seks normal. Ini menyebabkan mereka begitu khawatir akan ditinggal pasangan. “Mereka yang punya orientasi seks menyimpang, biasanya lebih takut kehilangan pasangan dibandingkan dengan orang yang berorientasi seks normal. Ini berkaitan dengan jumlah mereka yang lebih sedikit. Kalau kita (orang dengan orientasi seks normal) ditinggal pasangan, kan banyak penggantinya. Kalau mereka, enggak mudah menemukan pasangan baru. Ya mungkin ada, tetapi untuk bisa cocok secara emosional belum tentu,” jelas Sani. (bbi/age)








