Dua unit ini ditempatkan di dalam pintu keluar internasional untuk mengantisipasi masuknya virus ebola maupun virus corona melalui penumpang.
Kepala KKP Klas I Surabaya Susanto mengatakan, dengan alat akan memberikan ruang sempit atau gerak masuknya virus masuk ke Indonesia, khususnya di Jatim.
“Kami siapkan dua unit, di terminal I dan terminal II. Tidak itu saja, kami juga menyiagakan alat pendeteksi panas tubuh manusia ini di Asrama Haji Sukolilo Surabaya,” ujarnya kepada wartawan di Surabaya, Selasa (11/11)
Dia lalu menjelaskan, keberadaan alat ini dinilai mendukung dalam mengantisipasi masuknya virus ebola maupun virus corono. Bahkan, gejala panas yang diterima alat ini memudahkan petugas menjaring dan segera melakukan tindakan medis.
“Älat ini menangkap suhu panas tubuh manusia, jika suhu tubuh panas 38 derajat maka orang itu kita arahkan keruang obsevasi untuk dilakukan tindakan medis,” katanya.
Susanto menuturkan, sejauh ini, hasil yang didapat dalam mendeteksi penumpang dibandara Juanda, sudah ditemukan dua orang yang diindikasikan. Ternyata, berdasarkan hasil laboratoriumnya, dua orang dinyatakan negatif dari virus ebola maupun virus corono.
“Meski hasil lab dinyatakan negatif, guna memastikan tidak terkena virus ebola maka kami mengkarantina sampai 21 hari. Jika ternyata selama waktu itu tidak ada gejala maka kami memulangkannya,” terangnya.
Selain itu, mencurigai penumpang yang berasal dari Negara endemis ebola harus dilakukan dengan cermat. Meskipun, hasil lab negatif, tetapi guna menyakinkan kesehatannya baik maka harus menunggu waktu yang ditentukan. Karena virus ebola memiliki gejala panas sampai 21 hari. Akan tetapi, sebaliknya, jika sebelum hingga 21 hari tenyata suhu panasnya turun maupun gejala lainnya baik maka pasien dinyatakan kondisinya baik.
“Intinya, kami memastikan kondisinya benar-benar sehat dan bebas dari virus ebola. Kekuatiran ini sangat beralasan karena dua orang ini pernah dari Negara endemis ebola (Afrika,red),” urainya.
Lebih lanjut dia mengatakan, alat ini dipasang sejak merebaknya virus flu burung beberapa tahun yang lalu, juga dipasang lagi adanya virus ebola. Tentunya, keberadaan alat ini akan terus sampai batas waktu yang belum ditetapkan.
“Mudah-mudahan tahun depan ada penambahan alat thermalscanne untuk ditempatkan di wilayah vital akses masuknya virus ebola. Jika, ada wacana terminal III juanda dibuka maka tambahan alat ini kami siagakan di sana,” katanya. (bbi/age/kmf/wh)
