Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Asmar Arsyad menyebutkan, areal kelapa sawit di Indonesia mencapai 9.230 juta hektar pada tahun 2012. Sementara produksi Crude Palm Oli (CPO) 28 juta ton.
Dalam sebuah workshop bertajuk “Meluruskan Persepsi Negatif Industri Kelapa Sawit Indonesia” di Malang, Kamis, ia menyebutkan bahwa nilai ekspor 21.3 juta ton atau 23.8 juta dollar AS, sedangkan kebutuhan dalam negeri 10 juta ton.
“Kendala peningkatan produktivitas sawit adalah bibitnya palsu, lahan marginal, pupuk kurang, tanaman tua. Dari sisi rendemen adalah kultur teknis, sortasi, brondolan, kontaminasi. Kendala sisi sosial adalah pendidikan, budaya, adopsi teknologi dan kesempatan,” katanya.
Saat ini, negara-negara maju telah mengembangkan isu-isu negatif terhadap sawit seperti dinilai sebagai minyak konsumsi yang tidak sehat, tidak ramah lingkungan, penyebab kerusakan hutan, menyerap air sangat tinggi, meminggirkan masyarakat asli dan sebagainya.
Padahal, faktanya, menurut Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Ir Damat MP, kelapa sawit memiliki sejumlah keunggulan yakni biaya produksi relatif rendah, umur ekonomi 25 tahun, memiliki kandungan mikro nutrien berupa karoten tinggi, tokoferol dan tokotrienol serta tidak mengandung kolesterol.
“Karakteristik minyaknya semi solid, kandungan asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh yang berimbang serta kandungan oleat relatif tinggi atau 46 persen,” katanya. [bbi/age sumber Antara]
