Menakar Arah Politik Perang Tarif Donald Trump Setelah Tarif 14 Negara Asia Diketok

koki duit

Trumph umumkan tarif berlaku 1 Agustus untuk 14 negara Asia. Bagaimana kebijakan tarif Amerika lainnya terutama terkait China, Rusia dan Eropa?

Berdasarkan pengumuman terbaru dari Presiden Donald Trump, tarif baru memang akan berlaku mulai 1 Agustus 2025 untuk sejumlah negara, termasuk beberapa di Asia. Surat pemberitahuan telah dikirim ke lebih dari selusin negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, Bangladesh, Malaysia, dan Afrika Selatan. Tarif ini bervariasi, misalnya Jepang dan Korea Selatan dikenakan 25%, Indonesia 32%, dan Myanmar serta Laos mencapai 40%. India mendapatkan penundaan tarif dan masih dalam negosiasi untuk kesepakatan perdagangan bilateral.

Bacaan Lainnya

Berikut adalah kebijakan tarif Amerika lainnya, terutama terkait China, Rusia, dan Eropa:

China:
* Konflik perdagangan antara AS dan China telah berlangsung sejak Januari 2018. Pemerintahan Trump (dan juga Biden) telah menerapkan tarif dan hambatan perdagangan dengan tujuan memaksa China mengubah praktik perdagangan yang dianggap tidak adil dan pelanggaran kekayaan intelektual.
* Saat ini, rata-rata tarif AS pada barang-barang China mencapai 51,1%, sementara bea China untuk ekspor AS rata-rata 32,6%.
* China tidak mendapatkan penundaan tarif hingga 1 Agustus seperti negara lain, melainkan hingga 12 Agustus untuk mencapai kesepakatan atau menghadapi pembatasan impor lebih lanjut.
* Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif tambahan 10% pada China, India, dan negara-negara BRICS lainnya jika mereka dianggap “anti-Amerika” atau menentang kebijakan perdagangan AS.

Rusia:
* Kebijakan tarif terhadap Rusia seringkali terkait dengan sanksi geopolitik, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina.
* Ada usulan di Kongres AS untuk memberlakukan tarif hingga 500% pada negara-negara yang terus membeli produk dari Rusia, termasuk minyak. Senator Lindsey Graham secara aktif mengadvokasi undang-undang ini, meskipun penerapannya masih “akan dilihat nanti” seperti yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri India.
* Trump juga mengancam tarif tambahan 10% pada anggota BRICS (yang mencakup Rusia) jika mereka menolak kebijakan “pro-Amerika” atau berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan internasional. Ancaman ini bahkan bisa mencapai 100% jika negara-negara BRICS bersikeras menggunakan mata uang mereka sendiri untuk perdagangan.

Eropa:
* AS telah memberlakukan tarif 20% pada barang-barang dari Uni Eropa sebagai bagian dari upaya untuk menyeimbangkan defisit perdagangan. Awalnya, tarif ini sempat ditangguhkan hingga 9 Juli dengan tarif standar 10% untuk memberi waktu negosiasi.
* Namun, Trump telah menyatakan ketidakpuasannya dengan negosiasi tersebut dan mengancam akan meningkatkan tarif menjadi 50% untuk ekspor Eropa. Ini dapat membuat berbagai produk Eropa, mulai dari keju Prancis hingga mobil Jerman, menjadi jauh lebih mahal di AS.
* Uni Eropa sedang mempertimbangkan kesepakatan perdagangan sementara yang akan mempertahankan tarif 10% untuk sebagian besar ekspor, namun ada divisi di antara negara-negara anggota.
* Saat ini, AS juga menerapkan tarif tambahan 25% pada mobil penumpang dan truk ringan dari Eropa, serta tarif tambahan untuk bagian-bagian kendaraan tertentu. Ada juga tarif tambahan pada impor baja dan aluminium dari Eropa. Uni Eropa telah merespons dengan menerapkan kembali tindakan balasan terhadap produk-produk AS.

Penting untuk dicatat bahwa kebijakan tarif ini sangat dinamis, dan negosiasi terus berlanjut. Ancaman tarif seringkali digunakan sebagai alat negosiasi untuk mencapai kesepakatan perdagangan yang diinginkan oleh AS. (bbi/aye)

banner 300x250

Pos terkait

banner 728x60