Beberapa hari terakhir ini, kabar mengenai masalah besar yang melanda Deutsche Bank merebak dan turut memberikan volatilitas pada mata uang yang berpasangan dengan Euro. Apa yang terjadi sebenarnya pada Deutsche Bank? Jika memang masalah Deutsche Bank seserius Lehman Brothers, mengapa Euro tidak ikut tergerus? Berikut ini penjelasan menurut Kathy Lien, ekonom senior sekaligus Direktur Manager dari BK Asset Management.
Mengenal Deutsche Bank
Deutsche Bank adalah bank dan institusi keuangan raksasa di Jerman yang sudah malang melintang mendampingi negara beribukota Berlin tersebut bahkan saat masih terpecah menjadi Jerman Barat dan Timur.
Dalam artikel Seputarforex.com berjudul 10 Pemain Utama Dalam Industri Forex, Deutcshe Bank termasuk sebagai salah satunya, dengan porsi transaksi industri forex sebesar 7.9 persen = ±395 milyar dolar AS. Bank ini juga dikenal dengan sebutan “German Lender” karena kuasanya atas lebih dari 21 persen likuiditas di dunia forex dealer. Sayangnya, makin lama, masa kejayaan Deutsche Bank kian meredup. Apa pasal?
Masalah Yang Membelit Deutsche Bank
Krisis finansial global 2008/2009 masih berbuntut panjang. Tak hanya meruntuhkan Lehman Brothers, Deutsche Bank rupanya menjadi salah satu bank yang belum benar-benar pulih setelah tragedi pasar keuangan tersebut berlalu.
Deutsche Bank diketahui masih harus menghadapi banyak sekali tuntutan hukum, mulai dari money laundering di cabangnya di Rusia, praktik manipulasi forex di benua Eropa, hingga penjualan MBS yang menyesatkan di Amerika.
Sejak tahun 2009, harga sahamnya terus melorot, tetapi mulai Januari 2016 nampak ada aksi jual besar-besaran dan mencapai klimaksnya kemarin setelah US Department of Justice mencetuskan tuntutan sebesar 14 miliar Dolar yang diprediksi bakal menggulung tikar bank terbesar di Jerman itu. Sepanjang tahun 2015, Deutsche Bank sudah membukukan kerugian hingga 6 miliar Euro, kendati demikian, bank tersebut masih bisa bertahan dan beroperasi di 70 negara di dunia.
Bagan spillover Deutsche Bank terhadap bank-bank global secara sistemik
Selama hampir dua minggu ini, saham Deutsche Bank terpuruk hingga ke rekor terendah dan makin mengkhawatirkan. Berbagai kabar pun mengenai rencana bailout dari Pemerintah Jerman berhembus simpang siur demi menyelamatkan Deutsche Bank dari status “The Next Lehman Brothers.”
Di satu sisi, sebuah media Jerman, Die Zeit, melaporkan bahwa tindak penyelamatan untuk DB yang sudah dirancang yakni berupa tambahan modal dan bailout saham sebesar 25% yang akan diluncurkan apabila DB tidak juga mampu bangkit di pasar. Skenario ini adalah langkah ekstrim yang kemungkinan akan diambil oleh pemerintah jika kondisi sudah mendesak.
Di sisi lain, Kanselir Angela Merkel dan beberapa pejabat pemerinta Jerman lain sibuk menyanggah kabar tersebut. Dalam berita Seputarforex.com tanggal 28 September 2016, disebutkan: “Majalah Jerman–Focus–melaporkan, Merkel telah menampik kemungkinan bailout bagi Deutsche Bank, meski nilai sahamnya telah menyentuh level terendah sepanjang masa. Pemerintah Jerman berpandangan bahwa sediaan modal Deutsche Bank masih memadai, apalagi bank itu sudah lulus test-stress yang digelar European Banking Authority musim panas ini.”
Penurunan Euro Tak Ekstrim, Ini Sebabnya
Akibatnya, pair mata uang dengan Euro, terutama EUR/USD dan EUR/GBP, naik turun bak roller coaster menanggapi perkembangan isu Deutshe Bank. Dalam waktu 24 jam, saham Deutsche Bank bahkan ambles hingga 7 persen.
Yang menarik, menurut Kathy Lien, pukulan yang dihadapi oleh Euro selama kasus Deutsche Bank mencuat, bukanlah pukulan keras. Faktanya, EUR/USD mengakhiri sesi perdagangan kemarin dengan loss yang terbatas, tak jauh beda dengan dengan pair-pair lain seperti AUD/USD, USD/CHF dan bahkan GBP/USD. Jika memang “stadium” Deutsche Bank setingkat dengan Lehman Brothers, EUR/USD seharusnya menurun drastis, tulis Lien.
Menurutnya, ada dua alasan yang paling mungkin terkait betapa lentingnya Euro: yield-yield Jerman naik dan yield-yield AS jatuh ATAU mayoritas investor masih yakin bahwa Deutsche Bank “Too Big Too Fail”, terlalu besar untuk dijatuhkan.
Terlepas dari hal tersebut, CEO John Cryan berargumen bahwa perusahaan tersebut memiliki cadangan likuiditas yang ekstra besar serta cadangan lain sebesar 1 miliar Euro dari penjualan Abby Life. Namun masalahnya, mereka (Deutsche Bank) masih punya utang sebesar 14 miliar dolar AS kepada U.S. Department of Justice yang menuntutnya. Hal inilah yang ditakutkan oleh para investor, dalam pengertian, Deutsche Bank bisa bangkrut secara finansial jika memang tuntutannya sebesar itu.
Investor Masih Berproyeksi Positif
Namun, harapan kembali timbul saat salah seorang nara sumber terpercaya namun anonim menyebutkan bahwa besaran tuntutan masih bisa dinegosiasikan. Negosiasi tuntutan itu juga diamini oleh analis Fitch Ratings yang dikutip oleh CNBC, dengan mengatakan bahwa kondisi hanya akan berbalik negatif jika tuntutan AS lebih besar daripada ketentuan yang sudah diketahui.
Ditambah lagi dengan kabar bahwa pemerintah Jerman mungkin saja meluncurkan bailout meski sejumlah pihak, termasuk Kanselir, menyanggahnya. Perkiraan-perkiraan positif itulah yang menjadi tambahan faktor untuk Euro sehingga tak harus mengalami pelemahan yang suram. (bbi/age dari berbagai sumber)








